STRATEGI BOOTSTRAPPING UNTUK START UP

sacsacscsa

bootstrapping startup
Masalah yang paling banyak dihadapi oleh pebisnis Start Up di Indonesia adalah permodalan. Tanpa modal mereka tidak bisa berkreasi dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Meskipun bukan faktor mutlak tapi modal ini jadi sangat penting pada jenis bisnis tertentu. Seperti pada bisnis manufaktur atau kuliner yang tentu membutuhkan bahan baku untuk memulainya.
Membiayai sendiri, Hutang dan investor bisa menjadi salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk memulai bisnis. Dilansir dari Techinasia.com setidaknya ada 82% yang membiayai bisnisnya sendiri dan hanya 1% Start Up yang mendapatkan pendanaan dari Venture Capital. Tapi sayangnya mendapatkan kredit dan investor di Indonesia cukup sulit di lakukan. Sehingga sisanya 82% dari Start Up memilih menggunakan modal sendiri dengan berbagai upaya.
Tahukah Anda, ternyata metode ini sebenarnya ada teorinya. Mengumpulkan modal sendiri dengan cara kreatif untuk mendapatkan uang sebagai pondasi bisnis yang lebih besar. Dikenal dengan Strategi Bootstrapping.
Bootstrapping dilakukan oleh para pebisnis baru yang kekurangan modal untuk memulai bisnisnya. Dia harus mengandalkan uangnya sendiri, dari keluarga atau teman yang mau membantunya. Mereka akan memaksimalkan pendapatan perusahaan untuk diputar kembali menjadi modal utama. Bahkan tidak banyak yang melakukan bisnis kecil lain agar bisa mendapatkan uang sebagai bantuan modal bisnis yang lebih besar.
Cara ini terbilang sangat efisien di era Baru 2017. Apalagi dengan adanya teknologi dan system informasi yang sangat berkembang pesat menjadikan semua orang berpeluang sama untuk menciptakan peluang. Kini Anda bisa menjual satu produk ke seluruh penjuru nusantara bahkan dunia tanpa memiliki website, hanya menggunakan sosial media atau marketplace.

bootstrapping startup1
Masih ingat pendiri AirBnB, Brian Chesky dan co-foundernya yang melakukan bootstrapping dengan menjual kotak sereal unik dengan tema konvensi Nasional Demokrat tahun 2008 lalu. Sereal unik yang dibuatnya disebut dengan nama Obama O’s dan Cap’n McCain’s. Saat itu bisa laku mencapai 600 kotak dan memperoleh penghasilan bersih 30.000 dollar AS.
Keterbatasan modal bukan jadi alasan menjadikan bisnis semakin besar. Selain pendiri AirBnb, strategi bootstrapping juga sudah terbukti dilakukan oleh kebanyakan bisnis besar seperti Apple, Microsoft, HP dan Dell Computer. Semua dari mereka memulai dari hal kecil dan dana pribadi yang sangat terbatas.
Apa Keunggulan Bootstrapping?
Bagi Anda yang tengah memulai atau akan memulai bisnis tapi terhalang pada pendanaan yang minim atau tidak adanya investor, bisa menggunakan sistem ini. Keunggulan dari Strategi Bootstrapping dibandingkan dengan investor atau menggunakan kredit diantaranya adalah :
1. Merdeka dalam Hal Sistem

Menjalankan Strategi Boostrapping ini sangat menguntungkan dari segi penguasaan bisnis. Ada akan merdeka untuk mengarahkan dan mengatur sistem bisnis sedemikian rupa, sepenuhnya menjadi hak Anda. Berbeda dengan adanya investor yang kadang justru menghambat pengambilan keputusan strategis.


Startup
2. Pondasi Keuangan Lebih Kuat

Karena keuangan sudah dipupuk dari awal dengan prinsip menghasilkan terlebih dahulu dan mengeluarkan lagi kemudian. Tentu hasilnya berbeda dengan menggunakan dulu baru menerka pengeluaran kemudian. Mereka yang menjalani bootsrapping pasti akan sangat matang dalam menata keuangan perusahaan.

3. Terfokus pada Core Bisnis

Bisnis yang fokus tentu yang akan memenangkan persaingan bisnis. Jika fokus pada core bisnis tentu lebih baik dibandingkan fokus pada profit. Profit bisa saja menghasilkan besar tapi tidak jangka panjang, tapi dengan fokus pada core akan memberikan hasil lebih baik jangka panjang.

Misalnya Anda dikejar debt collector untuk membayar tagihan kredit, tentu fokus akan terpecah dan keputusan lebih memilih fokus profit dibandingkan core bisnis. Alhasil jangka panjang bisnis menjadi rapuh.
4. Tidak ada Bunga Berkembang yang Membebani Setiap Bulan

Ini sudah jelas, jika melakukan pendanaan sendiri meskipun terseok-seok di awal waktu pasti akan lebih bebas dan tenang menjalaninya. Tidak ada bunga berkembang karena kredit setiap bulan yang selalu membebani. Karena pada dasarnya bisnis itu fluktuatif, tagihan bulanan yang kacau bisa menjadikan utang anakan yang semakin banyak.

Bagaimana melakukan Bootstrapping? Ini jadi pertanyaan besar bagi para pemula bisnis yang paling sering dilakukan. Berikut ini berbagai cara kreatif dan efisien menggunakan Strategi Bootstrapping di era Baru:
1. Memanfaatkan Bisnis Musiman sebagai Proyek Sampingan

Seperti contoh tadi, Anda bisa melakukan tahap bootstrapping dengan bisnis yang berbeda. Ini bisa jadi proyek sampingan. Lalu mengumpulkan hasilnya untuk membangun bisnis yang lebih kuat. Seperti Brian Chesky dan teamnya yang bisa memanfaatkan bisnis musiman ketika tengah ramai pemilu. Sehingga lebih mudah memasarkan dan akan terjadi maksimal profit meski setelah pemilu usai produk tidak akan laku lagi.

2. Menggunakan teknologi unboundaries

Menjalankan bisnis saat ini sangat dimudahkan dengan adanya teknologi. Anda bisa memasarkan produk apapun hanya dalam hitungan detik bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Untuk menjalankan Bootstrapping dengan cepat dan efisien Anda perlu menggunakan teknologi agar menjangkau tempat dengan cepat dan tanpa batas.

3. Maksimalkan kreativitas

Bootstrapping tidak membutuhkan modal dan tenaga banyak, hanya butuh kreativitas. Menemukan celah pasar, lalu mengisinya dengan sebanyak mungkin produk agar keuntungan maksimal. Yang dipikirkan bukan jangka panjang, melainkan jangka pendek. Untung cepat, banyak dan maksimal. Hanya kreativitas yang bisa mendukung ini.

4. Memaksimalkan sumberdaya dan keuntungan

Kuncinya ada di sini, keuntungan dan sumber daya yang dimaksimalkan. Memaksimalkan keuntungan bisa dilakukan dengan penetrasi pasar seluas mungkin dan menemukan harga produk paling cocok. Sedangkan sumberdaya bisa dimaksimalkan dengan menggunakan semua media pemasaran, online, offline, dan penggunaan relasi sebaik mungkin.

5. Jangan mengeluarkan banyak modal untuk bootstrapping

Strategi Bootstrapping3
Bukan berarti bahwa bisnis yang menjalankan Strategi Bootstrapping adalah miskin. Justru dampak yang dihasilkan sangat luar biasa. Mereka akan mendapatkan insting manajemen dan memaksimalkan profit karena telah teruji dan terukur.
Strateginya, agar metode ini berjalan efisien tanpa membebani hutang atau pengeluaran yang terlalu besar adalah dengan meminimalisir pengeluaran. Strategi Bootstrapping tidak didesain untuk membutuhkan pengeluaran banyak, tapi sebaliknya. Hasil banyak dengan pengeluaran sedikit untuk jangka pendek.
Bahkan sekelas Warren Buffet mengatakan bahwa saat ini adalah waktu paling ideal untuk menjalani Strategi Bootstrapping bagi startup karena bisa mengadopsi brick and mortar (model bisnis konvensional) seta memadukan dengan teknologi digital. Alhasil lebih mudah dilakukan untuk mencapai keuntungan tak terbatas.
Semoga bisnis Anda bisa melesat jauh lebih dengan bantuan sistem Strategi Bootsrapping ini.
Salam Pencerahan!

TOM MC IFLE
* Indonesia’s #1 Business Coach
* Lean Six Sigma Coach
* Certified Matriz Level 1 Facilitator
* CEO Top Coach Indonesia

3 KESALAHAN FATAL PENGUSAHA STARTUP

sacsacscsa

Startup1
Dalam hal apapun tentunya kita pernah melakukan sebuah kesalahan. Walaupun, melakukan kesalahan merupakan bagian penting dalam sebuah proses, namun tidak semua kesalahan bagus untuk proses Anda, termasuk dalam bisnis. Seperti yang dikutip dari Inc. Magazine, bahwa Ilya Pozin, seorang pendiri Ciplex (sekarang Coplex) mengatakan, “tak semua kesalahan bisa membuat Anda lebih produktif.”
Nah, ini artinya selama ini banyak kesalahan dalam bisnis yang dilakukan terus-menerus oleh pengusaha Startup dan sangat berbahaya bagi kelanjutan sebuah bisnis. Hal tersebut bisa diakibatkan karena ketidak tahuan kita tentang bagaimana cara yang tepat menjalankan strategi bisnis, sistemasi bisnis tidak berjalan (tidak sehat), serta rutinitas atau kebiasaan yang menjadi budaya perusahaan.
Kali ini saya akan membahas 3 kesalahan fatal yang dilakukan pengusaha Startup. Menurut survei yang dilakukan oleh Michael E. Gerber, dalam bukunya The E-Myth, dikatakan bahwa ada hampir 80% business owner mengalami kebangkrutan dan gulung tikar di tahun pertama. Sedangkan, sisanya 20% yang masih bertahan.
Dari 20% tersebut, ada sekitar 80% bisnis tutup di umur 4 tahun pertama. Sederhananya, hanya ada 4% saja business owner mampu bertahan hingga tahun ke 5. So, jika ada 100 pengusaha tahun ini maka pada tahun ke lima, hanya akan ada 4 pengusaha yang bisa bertahan.

Apa Penyebabnya?

Penyebabnya bukan hanya dari kompetitor, tetapi dari hal-hal kecil yang sering kita lakukan. Kesalahan tersebut biasanya diakibatkan oleh beberapa hal. Nah, saat Anda membaca daftar berikut, pertimbangkan apakah Anda pernah melakukan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan, khususnya bagi pengusaha Startup. Yakni:

1. Menunda

Seringkali dalam menjalankan bisnis, banyak Startup menunda ide kreatif yang dimiliki. Alasannya mungkin menunda karena ingin sempurna terlebih dahulu, “Kalau sudah sempurna, baru saya memulai bisnis.” Tetapi, asal Anda tahu bahwa dengan menunda ide maka akan ada orang lain yang siap mendahului Anda. “Dulu saya punya ide itu tuh, wah jangan-jangan orang lain telah mencuri ide saya.”


Startup2
Bisa jadi seperti ini, sering sekali pada saat kita berbicara atau ngobrol-ngobrol dengan teman-teman “wah, saya mau buat minuman isi ulang. Coba ya kita bisa buat bisnis air isi ulang.” Namun, lagi-lagi karena kita sering menunda, akhirnya ada orang lain yang memulai bisnis tersebut duluan. So, saran saya jangan pernah menunda ide bisnis Anda, karena banyak sekali orang yang menginginkan sempurna akhirnya ketinggalan.

2. Menurunkan Kualitas

Kedua adalah jangan sampai sebagai business owner, Anda menurunkan kualitas. Nah, dari hal ini ada yang menarik dan bisa Anda ambil pelajaran. Ada dua bisnis yang sama, satu berusaha untuk mendapatkan untung yang lebih besar dan satunya fokus dengan produk, “Oh saya pengen cepet-cepet kaya nih, saya pokoknya harus dapat untung yang lebih besar.” Lalu kemudian si business owner menurunkan kualitas produknya. Ini adalah hal yang paling fatal dalam berbisnis.

Jadi, walaupun bisnis Anda baru mulai, sangat tidak dianjurkan bagi Anda ketika ingin hemat tetapi dengan cara menurunkan kualitas. Kualitas disini ada banyak, bisa kualitas produk, pelayanan atau bisa juga kualitas karyawan. “Saya mau hemat, saya mau merekrut karyawan yang murah meriah saja.“ Kalau sudah begitu, maka yang Anda dapatkan adalah hasilnya nanti juga yang murah meriah. Pelayanannya begitu-begitu saja dan akhirnya korbannya adalah bisnis Anda sendiri. Padahal, Anda sudah investasi uang, investasi waktu, tetapi banyak customer yang kecewa. Hasilnya, bisnis jadi korban.

3. Jalan Pintas

Faktor ini biasanya disebabkan oleh orang yang terlalu terburu-buru ingin mendapatkan kesuksesan atau kekayaan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya: “saya mau investasi marketing nih.” Ternyata Anda mengeluarkan uang segede-gedenya, tetapi Anda tidak bisa menghitung atau menjustify returnnya.

Bisa jadi Anda melakukan jalan pintas seperti ini, “saya baru dalam bisnis, supaya saya tidak repot. Sudahlah, saya akan cari orang yang hebat sekali, beli manusianya lalu kemudian diterapkan dan dimasukkan ke dalam bisnis.”

startup4
Anda berharap bahwa orang itu bisa mentransformasi bisnis Anda dengan luar biasa, padahal belum tentu bisa. Nah, itulah jalan pintas. Sedangkan jalan pintas lain adalah bisa jadi kita meniru produk orang lain tetapi tidak memodifikasi. Mencontek boleh-boleh saja dalam bisnis, tetapi harus diberi nilai produk yang lebih. Kenapa? Supaya nilai produk yang Anda keluarkan itu lebih unggul. Kalau Anda meniru lalu kualitasnya lebih rendah daripada kompetitor, maka sama saja bohong. Betul? Nah, jadi Anda harus lebih bagus, berkualitas dan mungkin bisa lebih murah.

Salam Pencerahan!

TOM MC IFLE
* Indonesia’s #1 Business Coach
* Lean Six Sigma Coach
* Certified Matriz Level 1 Facilitator
* CEO Top Coach Indonesia