CARA START UP BERSAING SEHAT SAAT INVESTOR LESU

sacsacscsa

Investor
Menjalankan bisnis pasti akan selalu dihadapkan dengan masalah demi masalah dan kita harus siap untuk menjalaninya. Juga bisnis yang mendapatkan kucuran dana dari Investor tidak terhindar dari masalah yang timbul. Ada kalanya Investor bersemangat tapi bisnis semakin lesu atau sebaliknya, bisnis sedang kuat tapi Investor lesu.
Jika bisnis yang lesu mungkin masalah bisa diatasi dengan inovasi atau tambahan dana lagi dengan melakukan intensifikasi pada bagian tertentu. Tapi bagaimana jadinya jika justru Investor yang lesu. Artinya bisa jadi pendanaan dihentikan, terhambat atau keuangan Investor tidak stabil.
Meskipun faktor risiko perusahaan kolaps karena Investor lesu cukup minim, sedangkan sebagian besar bisnis Start Up gulung tikar karena faktor pasar yang tidak mendukung. Seperti Shopious yang baru-baru ini gulung tikar karena persaingan kurang sehat, mayoritas pembeli online mencari harga murah, diskon dan promo sedangkan bisnis ini bersaing dengan kualitas.
Investor lesu sangat mungkin terjadi jika kinerja bisnis tidak sesuai harapan atau iklim keuangan makro sedang tidak bagus. Lalu apa yang harus dilakukan? Berikut ini berbagai cara yang harus dilakukan jika Anda sebagai pebisnis Start Up harus bersaing secara sehat saat Investor lesu :
1. Melakukan Efisiensi Anggaran dan Prioritas Kebutuhan
Hal pertama yang harus dilakukan ketika Anda mulai memperkirakan Investor akan lesu adalah dengan melakukan efisiensi anggaran dan menentukan kebutuhan yang paling prioritas. Terutama bagi bisnis yang menjadikan investor sebagai motorik utama penggerak bisnis.

Investor1
Hal ini sangat penting karena jika Investor berhenti memberikan dana maka bisnis otomatis akan tutup. Pastikan penghematan ini tidak mengganggu sirkulasi bisnis dan tetap menjaga cashflow tetap aman. Bisnis semacam ini biasanya banyak mengeluarkan modal untuk operasional dan hasilnya baru akan terlihat setelah beberapa tahun yang akan datang.
2. Menghitung kembali perkiraan Target Masa Depan
Masa depan bisnis memang dipertaruhkan ketika Investor mulai lesu, jangan sampai perhitungan dengan dana yang sesuai kesepakatan di awal digunakan semua dan mendadak Investor memangkas anggaran. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap target dan masa depan bisnis Anda.
Anda harus memperkirakan kembali penggunaan dana dan operasional masa depan bisnis. Hitung kembali dengan benar dan jangan sampai menjadi hambatan yang membuat bisnis Anda lambat laun menjadi redup.
3. Hindari Spekulatif terlalu Besar
Ada kalanya ketika menjalankan bisnis harus dijaga tetap konstan dan ada kalanya harus diulur sebaik mungkin. Seperti halnya orang bermain layangan, kala angin bertiup kencang maka benang harus diulur dan kala angin melemah maka benang harus ditarik. Begitu pula bisnis, ketika modal siap untuk bergerak lebih jauh maka bergeraklah tapi jika kira-kira akan lesu maka mulai bertahanlah.
Meskipun bisnis yang Anda jalankan tidak sepenuhnya mengandalkan dana dari investor, tapi ini juga akan berimbas panjang pada perencanaan keuangan, cashflow dan manajemen produksi yang telah diterapkan.
4. Gunakan Pertimbangan Investor akan Lanjut atau Tidak
Saat Anda mengalami Investor yang lesu, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama Investor akan terus mendanai tapi dengan jumlah yang lebih sedikit atau bahkan dihentikan. Jika terus didanai dengan jumlah sedikit, kita masih bisa spekulasi dengan merampingkan pengeluaran dan melakukan efisiensi keuangan.

Investor2
Tapi bagaimana jadinya jika Investor mendadak dihentikan. Hal ini seharusnya sudah diperkirakan oleh pebisnis sejak awal menandatangani kontrak. Bagaimana jika berhenti di tengah jalan dan sebagainya. Jika ini terjadi maka hal yang harus dilakukan adalah mencari jalan keluar agar bisnis tidak gulung tikar.
Caranya bisa mencari pendanaan lain, menggunakan pendanaan sendiri atau melakukan bootstrapping dengan menggenjot bagian-bagian dari bisnis yang sangat menguntungkan. Konflik ini memang sangat sulit, tapi bisa diatasi jika kita terus berusaha memahami solusinya.
5. Cari Pendanaan dari Pihak Lain jika memungkinkan
Nah, jalan terakhir jika sudah tidak memungkinkan lagi untuk menjaga dari satu Investor maka kita harus segera mencari Investor lain. Bisa dilakukan dengan menawarkan saham, menjual presentase kepemilikan atau menambah joint venture yang siap mendanai beberapa bagian bisnis.
Banyak orang menilai bahwa Bisnis Start Up di Indonesia adalah tempat bakar uang sebesar-besarnya karena kompetisi modal menjadi hal yang harus dipenuhi. Hampir semua Start Up di Indonesia berhasil karena memiliki pendanaan yang kuat dan tim yang solid.
Permodalan dari Investor atau yang dikenal dengan Venture Capital memang menjadi faktor utama bertahannya bisnis terutama yang bergerak di bidang digital. Banyak diantaranya yang gagal karena permodalan kurang kuat dan ada bisnis sejenis lain yang lebih kuat modal. Sebut saja YessBoss atau FoodPanda yang kalah dengan Go food dari Go-Jek. YessBoss akhirnya vakum dan mencari cara baru, sedangkan FoodPanda harus berpindah ke negeri lain.
Ada pula Shopious yang gulung tikar meskipun konsep bisnisnya sangat bagus dan barang yang dijual bagus. Tapi sayangnya Aditya Herlambang kurang bisa memecahkan masalah dengan hanya mengandalkan modal bootstrapping. Akhirnya harus gulung tikar dan tergantikan oleh bisnis lain yang lebih kuat modal.
Setidaknya tahun 2016 lalu ada 87 Start Up Indonesia yang sukses mendapatkan pendanaan sangat besar. Diantaranya adalah Go-Jek dengan investasi US$550 juta (sekitar Rp7,4 triliun) dari beberapa Investor sekaligus yaitu KKR, Warburg Pincus, dan Sequoia. Juga ada Tokopedia yang mendapat US$147 juta (sekitar Rp2 triliun) dan MatahariMall dengan tambahan investasi US$100 juta (sekitar Rp1,3 triliun).
Menggunakan Dana Investor adalah pilihan yang bijak, tapi tentu saja harus dengan segala pertimbangan yang mungkin terjadi. Misalnya dengan memperbanyak sumber Investor agar bisa memastikan pendanaan kuat dan sebagainya.
Salam Pencerahan!

TOM MC IFLE
* Indonesia’s #1 Business Coach
* Lean Six Sigma Coach
* Certified Matriz Level 1 Facilitator
* CEO Top Coach Indonesia

STRATEGI BOOTSTRAPPING UNTUK START UP

sacsacscsa

bootstrapping startup
Masalah yang paling banyak dihadapi oleh pebisnis Start Up di Indonesia adalah permodalan. Tanpa modal mereka tidak bisa berkreasi dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Meskipun bukan faktor mutlak tapi modal ini jadi sangat penting pada jenis bisnis tertentu. Seperti pada bisnis manufaktur atau kuliner yang tentu membutuhkan bahan baku untuk memulainya.
Membiayai sendiri, Hutang dan investor bisa menjadi salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk memulai bisnis. Dilansir dari Techinasia.com setidaknya ada 82% yang membiayai bisnisnya sendiri dan hanya 1% Start Up yang mendapatkan pendanaan dari Venture Capital. Tapi sayangnya mendapatkan kredit dan investor di Indonesia cukup sulit di lakukan. Sehingga sisanya 82% dari Start Up memilih menggunakan modal sendiri dengan berbagai upaya.
Tahukah Anda, ternyata metode ini sebenarnya ada teorinya. Mengumpulkan modal sendiri dengan cara kreatif untuk mendapatkan uang sebagai pondasi bisnis yang lebih besar. Dikenal dengan Strategi Bootstrapping.
Bootstrapping dilakukan oleh para pebisnis baru yang kekurangan modal untuk memulai bisnisnya. Dia harus mengandalkan uangnya sendiri, dari keluarga atau teman yang mau membantunya. Mereka akan memaksimalkan pendapatan perusahaan untuk diputar kembali menjadi modal utama. Bahkan tidak banyak yang melakukan bisnis kecil lain agar bisa mendapatkan uang sebagai bantuan modal bisnis yang lebih besar.
Cara ini terbilang sangat efisien di era Baru 2017. Apalagi dengan adanya teknologi dan system informasi yang sangat berkembang pesat menjadikan semua orang berpeluang sama untuk menciptakan peluang. Kini Anda bisa menjual satu produk ke seluruh penjuru nusantara bahkan dunia tanpa memiliki website, hanya menggunakan sosial media atau marketplace.

bootstrapping startup1
Masih ingat pendiri AirBnB, Brian Chesky dan co-foundernya yang melakukan bootstrapping dengan menjual kotak sereal unik dengan tema konvensi Nasional Demokrat tahun 2008 lalu. Sereal unik yang dibuatnya disebut dengan nama Obama O’s dan Cap’n McCain’s. Saat itu bisa laku mencapai 600 kotak dan memperoleh penghasilan bersih 30.000 dollar AS.
Keterbatasan modal bukan jadi alasan menjadikan bisnis semakin besar. Selain pendiri AirBnb, strategi bootstrapping juga sudah terbukti dilakukan oleh kebanyakan bisnis besar seperti Apple, Microsoft, HP dan Dell Computer. Semua dari mereka memulai dari hal kecil dan dana pribadi yang sangat terbatas.
Apa Keunggulan Bootstrapping?
Bagi Anda yang tengah memulai atau akan memulai bisnis tapi terhalang pada pendanaan yang minim atau tidak adanya investor, bisa menggunakan sistem ini. Keunggulan dari Strategi Bootstrapping dibandingkan dengan investor atau menggunakan kredit diantaranya adalah :
1. Merdeka dalam Hal Sistem

Menjalankan Strategi Boostrapping ini sangat menguntungkan dari segi penguasaan bisnis. Ada akan merdeka untuk mengarahkan dan mengatur sistem bisnis sedemikian rupa, sepenuhnya menjadi hak Anda. Berbeda dengan adanya investor yang kadang justru menghambat pengambilan keputusan strategis.


Startup
2. Pondasi Keuangan Lebih Kuat

Karena keuangan sudah dipupuk dari awal dengan prinsip menghasilkan terlebih dahulu dan mengeluarkan lagi kemudian. Tentu hasilnya berbeda dengan menggunakan dulu baru menerka pengeluaran kemudian. Mereka yang menjalani bootsrapping pasti akan sangat matang dalam menata keuangan perusahaan.

3. Terfokus pada Core Bisnis

Bisnis yang fokus tentu yang akan memenangkan persaingan bisnis. Jika fokus pada core bisnis tentu lebih baik dibandingkan fokus pada profit. Profit bisa saja menghasilkan besar tapi tidak jangka panjang, tapi dengan fokus pada core akan memberikan hasil lebih baik jangka panjang.

Misalnya Anda dikejar debt collector untuk membayar tagihan kredit, tentu fokus akan terpecah dan keputusan lebih memilih fokus profit dibandingkan core bisnis. Alhasil jangka panjang bisnis menjadi rapuh.
4. Tidak ada Bunga Berkembang yang Membebani Setiap Bulan

Ini sudah jelas, jika melakukan pendanaan sendiri meskipun terseok-seok di awal waktu pasti akan lebih bebas dan tenang menjalaninya. Tidak ada bunga berkembang karena kredit setiap bulan yang selalu membebani. Karena pada dasarnya bisnis itu fluktuatif, tagihan bulanan yang kacau bisa menjadikan utang anakan yang semakin banyak.

Bagaimana melakukan Bootstrapping? Ini jadi pertanyaan besar bagi para pemula bisnis yang paling sering dilakukan. Berikut ini berbagai cara kreatif dan efisien menggunakan Strategi Bootstrapping di era Baru:
1. Memanfaatkan Bisnis Musiman sebagai Proyek Sampingan

Seperti contoh tadi, Anda bisa melakukan tahap bootstrapping dengan bisnis yang berbeda. Ini bisa jadi proyek sampingan. Lalu mengumpulkan hasilnya untuk membangun bisnis yang lebih kuat. Seperti Brian Chesky dan teamnya yang bisa memanfaatkan bisnis musiman ketika tengah ramai pemilu. Sehingga lebih mudah memasarkan dan akan terjadi maksimal profit meski setelah pemilu usai produk tidak akan laku lagi.

2. Menggunakan teknologi unboundaries

Menjalankan bisnis saat ini sangat dimudahkan dengan adanya teknologi. Anda bisa memasarkan produk apapun hanya dalam hitungan detik bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Untuk menjalankan Bootstrapping dengan cepat dan efisien Anda perlu menggunakan teknologi agar menjangkau tempat dengan cepat dan tanpa batas.

3. Maksimalkan kreativitas

Bootstrapping tidak membutuhkan modal dan tenaga banyak, hanya butuh kreativitas. Menemukan celah pasar, lalu mengisinya dengan sebanyak mungkin produk agar keuntungan maksimal. Yang dipikirkan bukan jangka panjang, melainkan jangka pendek. Untung cepat, banyak dan maksimal. Hanya kreativitas yang bisa mendukung ini.

4. Memaksimalkan sumberdaya dan keuntungan

Kuncinya ada di sini, keuntungan dan sumber daya yang dimaksimalkan. Memaksimalkan keuntungan bisa dilakukan dengan penetrasi pasar seluas mungkin dan menemukan harga produk paling cocok. Sedangkan sumberdaya bisa dimaksimalkan dengan menggunakan semua media pemasaran, online, offline, dan penggunaan relasi sebaik mungkin.

5. Jangan mengeluarkan banyak modal untuk bootstrapping

Strategi Bootstrapping3
Bukan berarti bahwa bisnis yang menjalankan Strategi Bootstrapping adalah miskin. Justru dampak yang dihasilkan sangat luar biasa. Mereka akan mendapatkan insting manajemen dan memaksimalkan profit karena telah teruji dan terukur.
Strateginya, agar metode ini berjalan efisien tanpa membebani hutang atau pengeluaran yang terlalu besar adalah dengan meminimalisir pengeluaran. Strategi Bootstrapping tidak didesain untuk membutuhkan pengeluaran banyak, tapi sebaliknya. Hasil banyak dengan pengeluaran sedikit untuk jangka pendek.
Bahkan sekelas Warren Buffet mengatakan bahwa saat ini adalah waktu paling ideal untuk menjalani Strategi Bootstrapping bagi startup karena bisa mengadopsi brick and mortar (model bisnis konvensional) seta memadukan dengan teknologi digital. Alhasil lebih mudah dilakukan untuk mencapai keuntungan tak terbatas.
Semoga bisnis Anda bisa melesat jauh lebih dengan bantuan sistem Strategi Bootsrapping ini.
Salam Pencerahan!

TOM MC IFLE
* Indonesia’s #1 Business Coach
* Lean Six Sigma Coach
* Certified Matriz Level 1 Facilitator
* CEO Top Coach Indonesia