AWAS! Gelombang PHK Mengancam Indonesia

sacsacscsa

Solusi Hadapi Krisis harus dipikirkan. Coba simak berita yang beredar baru-baru ini.

Ekonomi Lesu, Ratusan Ribu Pekerja Kena PHK – Kompas …

Waspada Gelombang PHK – SINDOnews

Gelombang PHK Mulai Terjadi | Indonesian Review

Kemenperin: Gelombang PHK Kian Mengancam

Efek Domino Pelambatan Ekonomi Gelombang PHK

Gelombang PHK Hantam Indonesia dan Perusahaan Global

 

Data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengungkapkan, sejak Januari 2015, industri sepatu Indonesia telah melakukan PHK secara bertahap terhadap 11.000 buruh mereka. Sektor pertambangan lebih parah lagi. Bisnis di sektor ini pada kuartal I-2015 sampai minus 2,32%. Akibatnya, mereka melakukan PHK terhadap ratusan ribu pekerjanya. IndonesianReview.com

Ancaman ini menjadi semakin nyata ketika saya menemui ratusan pengusaha di beberapa workshop yang saya adakan baru-baru ini. Sebagian besar dari mereka mengatakan:
“Bisnis saya tidak sebagus tahun lalu…”
“Omset drop 50% dari tahun lalu, dollar gila-gilaan.”
“Pabrik-pabrik mulai PHK karyawan, karena stok menumpuk, ngga bisa jualan.”
Kubler Ross Curve

Indonesia sedang dilanda gelombang perubahan, saya tidak mengatakan krisis. Charles Darwin mengatakan…
Elisabeth Kubler Ross adalah seorang pschyatrist dari Swiss menulis buku di tahun 1969, On Death and Dying. Ia menganalisa bagaimana sebuah perubahaan eksternal merangsang reaksi emosi yang konsisten di setiap pasien yang ia tangani. Ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan, pasien yang menyangkal adanya perubahan mengalami penurunan kesehatan lebih drastis dalam jangka waktu yang sangat lama untuk sembuh.

“It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”

Nah, apakah Anda mengalami:
· Apakah Anda mengalami gejolak yang sama?
· Apakah Anda tahu dunia berubah, namun belum tahu cara merespons?
· Apakah Anda adalah orang yang konservatif, konvensional, tradisional,selalu berusaha untuk melakukan hal yang umum, biasa?
· Apakah Anda sedang mencari aman?
· Apakah ingin lebih mapan?

Saya ingin membagikan 3 Tips agar anda bertahan menghadapi gelombang perubahan yang dahsyat ini.
1. Memperhatikan Sumber PEMBOROSAN
2. Mengukur PRODUKTIFITAS
3. TRAIN, TRAIN, TRAIN …

Memperhatikan SUMBER PEMBOROSAN
Awas, setiap aktifitas terdiri atas 20% nilai tambah dan 80% pemborosan. Kalau anda tidak percaya, coba perhatikan salesman anda, aktifitas yang bernilai tambah bisa jadi:
· Membuat proposal
· Melakukan follow up
· Presentasi
· Mengirim barang
· Menagih pembayaran
· Membuat laporan

Nah, solusi hadapi krisis adalah yang tidak memberi nilai tambah bisa jadi, menunggu, membuang waktu, mengoreksi, salah buat invoice, ngobrol, gossip, komplain ke atasan, mengeluh harga mahal, melakukan kesalahan, terlambat, kehilangan customer dan seterusnya. Anda harus agresif memperhatikan sumbernya, bukan sekedar pemborosannya.

Sekarang tips kedua : MENGUKUR PRODUKTIFITAS
Mengukur produktifitas memang tidak semudah yang dikatakan. Misalnya, divisi sales mungkin mudahlah untuk diukur tapi ada divisi yang lain yang agak sulit seperti Accounting, Finance, Operation, Admin, Gudang, HRD, General affairs dan seterusnya.

Mungkin jika berbicara konteks Key Performance Indicator kita bisa mengukur berdasarkan goal perusahaan, kontribusi masing-masing divisi terhadap goal dan ukurannya.
Mengukur produktifitas yang saya maksud disaat krisis adalah mengukur perbandingan antara MANFAAT dan BIAYA.

Ukurannya begini :
· Produktifitas = Manfaat : (biaya + masalah)
· Manfaat : adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh karyawan yang bersangkutan
· Biaya : adalah biaya langsung maupun tidak langsung
· Masalah : adalah problem yang ditimbulkan akibat memiliki karyawan tersebut

Contoh:
Andi adalah seorang Media Kordinator tanggung jawab beliau adalah mengelola semua hal yang berhubungan dengan media pemasaran.

Manfaat :
· Menghemat biaya cetak brosur setahun Rp. 10.000.000
· Menghemat biaya eksternal grafis desain Rp. 40.000.000/tahun
· Mengalihkan produksi DVD, CD ke pihak eksternal dengan minimum menjadi produksi internal
· Kerja cekatan, hemat, fokus, tidak perhitungan waktu kerja

Biaya :
· Gaji : Rp. 3,5juta/bulan
· Operasional : Rp. 1,5juta
· Total : 5 juta

Masalah
· Kesalahan cetak brosur : 2juta
· Kesalahan cetak DVD 1000pcs Rp 5juta

Produktifitas Andi : Rp. 50jt : (5jt+7jt)
Mungkin ini sangat aneh, namun, setelah saya mengukur dengan tools sederhana ini, saya menemukan banyak karyawan yang telah direkrut, bekerja sudah lama, tapi kita sendiri tidak bisa menjawab apa manfaat yang terukur dari karyawan ini?

Coba anda lakukan eksperimen ini, ajak karyawan anda untuk ikut berpikir bersama anda, dan minta mereka mendeskripsikan Manfaat, Biaya dan Masalah yang mereka hasilkan dari pekerjaan mereka.
Kali ini saya akan membahas lebih lanjut tips ke 3: TRAIN, TRAIN, TRAIN …
Lebih baik memiliki 1 karyawan cerdas dan hanya bertahan bekerja 2 tahun daripada memiliki 10 karyawan bermasalah dan setia seumur hidup. Ini kata mentor saya, seorang konglomerat yang tidak mau disebut namanya.

Benar, solusi hadapi krisis produktifitas anda dan pemborosan akan hilang dengan sendirinya jika anda memiliki TRAINED Employee, smart employee, motivated employee…
Tidak ada rahasia, orang yang latihan 100 kali dengan hanya menangkap 10%, lebih mampu menguasai daripada orang yang menangkap 100% tapi hanya dilatih satu kali.

Bagaimana melatih karyawan kalau tidak ada materinya? Ada banyak cara:
1. Gunakan sumber daya anda yang sudah ada
2. Beli buku, rangkum dan latih menggunakan ilmu yang anda serap
3. Kirimkan ke pelatihan SDM yang profesional
4. Lakukan inhouse training dengan pembicara profesional

Tiga poin ini akan membantu anda mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang sangat tajam. Semoga hal ini bisa memberi anda manfaat.

Salam pencerahan,
Tom MC Ifle
Indonesia’s #1 Success Coach
Lean Six Sigma Coach
Chief Executive Officer PT. Aubade Makmur