Industri Kecil dan Menengah Atasi Pengangguran

sacsacscsa

Jakarta, 5 Desember 2013 – Persoalan pengangguran maupun kemiskinan menjadi masalah yang belum bisa diselesaikan hingga saat ini. Namun, Industri Kecil dan Menengah (IKM) diyakini menjadi kunci untuk mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

“Dua persoalan itu lebih efektif dan efisien kalau diatasi lewat IKM,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun. Hal itu, menurut dia, disebabkan karena IKM bersifat padat karya sedangkan industri besar tidak bisa menyerap banyak tenaga kerja karena proses produksinya sudah digantikan oleh mesin.

Menurutnya, IKM memiliki peranan besar dalam membangun negara meskipun IKM sering menghadapi kendala keterbatasan modal yang tidak dialami oleh industri-industri besar. Untuk bisa mewujudkan Indonesia sebagai negara industri, sambung Alex, perlu sinergi antara IKM dengan industri besar sehingga bisa memperkuat struktur industri bangsa.

Saat ini jumlah unit usaha IKM di Indonesia mencapai 3,9 juta unit dan menyerap tenaga kerja sebanyak 9,14 juta orang. IKM-IKM tersebut 75 persen diantaranya berkembang di Pulau Jawa, sedangkan 25 persen lainnya di luar Pulau Jawa. “Diharapkan porsi IKM di luar Pulau Jawa bisa naik jadi 40 persen pada 2014,” kata Alex.

QH.

Pengembangan Industri Luar Jawa Kian Gencar

sacsacscsa

Jakarta, 24 Oktober 2013 – Pemerintah terus mengembangkan kawasan industri di berbagai provinsi terutama di luar Pulau Jawa. “Di Kalimantan, Sumatra, akan dikembangkan,” kata Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi, dalam Rakernas XV Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Jakarta.

Dia menjelaskan, di Sulawesi, pemerintah tengah bekerja sama dengan China untuk mengembangkan perindustrian di tiga kawasan yakni Morowali (Sulawesi Tengah), Bantaeng (Sulawesi Selatan) dan Konawe Utara (Sulawesi Tenggara).

Menurut dia, saat ini kawasan perindustrian masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yang mencapai 74 persen. Padahal sumber daya alam (SDA) tersebar di luar Pulau Jawa sehingga pihaknya terus berupaya untuk memacu pertumbuhan industri di luar Pulau Jawa.

Dedi pun mengharapkan adanya investor-investor yang berminat untuk berinvestasi mengembangkan perindustrian di luar Pulau Jawa. “Diharapkan ada investor masuk ke kawasan luar Jawa, sangat jarang investor yang minat di luar Jawa,” katanya.

Sementara di Jawa Timur, menurut dia ada 20 wilayah yang dapat dikembangkan menjadi kawasan industri. Beberapa diantaranya adalah Gresik, Mojokerto dan Lamongan.  “Karena nanti ada jalan tol sehingga akan memicu pertumbuhan kawasan industri di sana,” katanya.

Untuk wilayah Jawa Barat, daerah Subang dan Majalengka akan menjadi fokus pemerintah dalam mengembangkan industri dengan masing-masing luas lahan untuk kawasan industri sebesar 11 ribu hektar dan seribu hektar.

QH.

Kemenperin Bertekad Cetak 3.000 Wirausaha

sacsacscsa

Jakarta, 25 September 2013 – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  menargetkan untuk dapat mencetak 3.000 wirausaha baru di sektor industri kerakyatan pada tahun 2014. “Tahun depan rencananya menghasilkan 3.000 wirausaha baru, dari jumlah itu nanti kami pantau yang sungguh-sungguh itu berapa,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah.

Euis mengatakan, saat ini telah ada sekitar 5.000 wirausaha wanita yang telah dididik oleh Ditjen IKM Kemenperin. Untuk mencetak ribuan wirausaha baru setiap tahunnya, Kemenperin menggandeng beberapa universitas untuk menjaring mahasiswa atau lulusan yang memiliki minat tinggi untuk menjadi wirausaha.

“Untuk penumbuhan wirausaha baru, melalui inkubator, pendampingan, dan pemberian peralatan,” katanya. Inkubator ini diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Kemenperin di antaranya Universitas Sumatera Utara (USU) dan Unhas.

Panitia mengadakan rekrutmen dengan tahapan psikotes untuk melakukan penjaringan terhadap calon peserta. Setelah itu, calon peserta diajari tentang kewirausahaan dan produksi. Setelah diketahui minat bisnis mereka, peserta akan diminta untuk membuat rencana bisnis yang nantinya akan dipresentasikan. “Yang terbaik, akan diberi bantuan peralatan,” katanya.

Selain metode inkubator melalui perekrutan di beberapa universitas, pihaknya juga mengadakan rekrutmen putra-putri daerah untuk menjadi tenaga penyuluh lapangan. Para calon tenaga penyuluh dididik di sekolah perindustrian selama tiga tahun untuk kemudian dikembalikan ke daerah asal untuk menjadi penyuluh.

Dalam menjalankan tugas mereka dikontrak oleh pihak Kemenperin selama dua tahun. “Harapannya mereka bisa menjadi wirausaha baru,” katanya. Program yang sudah berjalan sejak 2007 ini, menurut dia, telah menghasilkan sebanyak 800 orang tenaga penyuluh perindustrian yang tersebar di 200 kabupaten dan kota.

Euis menambahkan, dalam membangun ekonomi melalui industri kerakyatan, Kemenperin menggunakan dua upaya pendekatan, yakni penumbuhan wirausaha baru dan peningkatan daya saing. Untuk di Pulau Jawa, Kemenperin memfokuskan untuk upaya meningkatkan daya saing, sementara untuk di luar Pulau Jawa, fokusnya adalah peningkatan jumlah wirausaha.

QH