PENJUALAN PTBA NAIK 17 PERSEN UNTUK PERIODE JANUARI – SEPTEMBER 2013

sacsacscsa

Penjualan PT Bukit Asam (Persero) Tbk.  atau PTBA untuk periode Januari – September 2013 naik sebesar 17 persen atau menjadi 13,24 juta ton dibandingkan Penjualan tahun 2012 pada periode yang sama sebesar 11,36 juta ton. Angka Penjualan tersebut dari sisi ekspor mengalami kenaikan sebesar 36 persen atau menjadi 7,02 juta ton dibandingkan tahun 2012 pada periode yang sama sebesar 5,15 juta ton, dan sebesar 6,22 juta ton sisanya untuk memenuhi permintaan domestik.

Sedangkan volume ekspor ke masing-masing negara tujuan dibandingkan total volume Penjualan, ke Taiwan sebesar 17 persen, India 14 persen, Cina 9 persen, Malaysia 8 persen, Jepang 3 persen, dan Vietnam 2 persen. Sementara Penjualan domestik sebesar 6,22 juta ton atau naik tipis sebesar 1 persen dibanding tahun 2012 pada periode yang sama sebesar 6,21 juta ton.

Dari Penjualan tersebut, PTBA berhasil meraih Pendapatan Usaha untuk periode Januari – September 2013 sebesar Rp 8,12 triliun atau 93% dibandingkan Pendapatan Usaha periode yang sama tahun sebelumnya, masing-masing dari Penjualan ekspor sebesar Rp 4,46 triliun dan Penjualan domestik sebesar Rp 3,64 triliun.

Prestasi yang diraih PTBA dalam mengendalikan kinerja keuangannya merupakan hasil dari langkah-langkah strategis yang diambil perusahaan, di antaranya memprioritaskan penjualan batubara kalori tinggi yang banyak diminati pasar ekspor, dan meningkatkan efisiensi secara optimal di semua aspek, di antaranya memperpendek jarak angkut di lokasi tambang dan memprioritaskan penggunaan alat produksi yang menggunakan tenaga listrik melalui PLTU 3 x 10 MW milik sendiri di mulut tambang untuk meminimalkan pemakaian BBM.

Dari langkah-langkah strategis yang diambil Perseroan, PTBA dapat perolehan Laba Bersih sebesar Rp 1,24 triliun atau 57% dibandingkan perolehan tahun 2012 sebesar Rp 2,20 triliun.

Sementara dari sisi Produksi dan Pembelian batubara selama periode Januari – September 2013 tercatat sebesar 13,3 juta ton, masing-masing, produksi PTBA di Unit Pertambangan Tanjung Enim sebesar 10,2 juta ton, produksi anak perusahaan PT International Prima Coal (IPC) di Kalimantan Timur sebesar 0,8 juta ton, serta pembelian batubara dari pihak ketiga oleh anak perusahaan, PT Bukit Asam Prima dan PT IPC sebesar 2,3 juta ton.

Dalam hal ini PT Kereta Api Indonesia dalam periode Januari – September 2013 telah mengangkut batubara PTBA dari lokasi tambang di Tanjung Enim menuju Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung dan Dermaga Kertapati di Palembang sebesar 9,56 juta ton atau naik 7 persen dibandingkan tahun 2012 pada periode yang sama. Penambahan 230 gerbong dan 44 lokomotif baru untuk angkutan batubara oleh PT KA yang baru di Triwulan IV ini mulai beroperasi penuh.

Sementara itu untuk belanja modal PTBA sampai dengan 30 September 2013 sudah merealisasikan sebesar Rp 1,21 triliun atau naik 82% dibanding realisasi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 670 miliar. Guna mendukung investasi pengembangan di Unit Pertambangan Tanjung Enim, Dermaga Kertapati dan Pelabuhan Tarahan serta pengembangan lainnya.

 

Pengembangan Usaha

Pada saat harga batubara mengalami penurunan, PTBA terus mempercepat progress proyek-proyek pengembangannya untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu “Menjadi Perusahaan Energi Kelas Dunia yang Peduli Lingkungan.” Di antara proyek-proyek adalah proyek peningkatan kapasitas Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung menjadi 25 juta ton dari sebelumnya sekitar 13 juta ton per tahun. Untuk itu, PTBA membangun tambahan satu dermaga (jetty) baru dengan kapasitas standar 150.000 DWT (Capesize) dari sebelumnya hanya bisa disandari satu kapal dengan kapasitas 80.000 DWT (Panamax). Untuk mendukung kehandalan operasional Pelabuhan Tarahan, PTBA membangun PLTU 2 x 8 MW milik sendiri yang dijadwalkan Triwulan IV ini sudah mulai beroperasi.

Proyek pengembangan lainnya di sektor energi lainnya yang sedang digarap PTBA adalah PLTU Banjarsari 2 x 110 MW di mulut tambang yang ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2014, PLTU Banko Tengah 2 x 620 MW di mulut tambang yang saat ini dalam tahap penyelesaian pendanaan (Financial Closure) dan dijadwalkan tahun 2014 sudah dimulai pembangunan konstruksinya dengan target beroperasi tahun 2017. Dengan demikian, secara keseluruhan kapasitas PLTU yang digarap PTBA saat ini mencapai 1.500 MW.

Di luar itu, PTBA bersama PT PLN dan Tenaga National Berhad dari Malaysia telah menandatangani Joint Development Agreement (JDA) untuk mengembangkan PLTU dengan kapasitas 800 – 1.200 MW di mulut tambang di wilayah IUP PTBA di Peranap, Indragiri Hulu, Riau. Separuh tenaga listrik yang dihasilkan akan diekspor melalui kabel bawah laut ke Semenanjung Malaysia, dan separuhnya lagi untuk memenuhi kebutuhan energi listrik domestik.

Selain di bidang pembangkit listrik, PTBA juga sudah memasuki bisnis Coal Bed Methane (CBM) yang saat ini masih dalam tahap eksplorasi di lokasi tambang PTBA di Tanjung Enim. Dengan cadangan sebesar 0,8 triliun TCF, proyek ini dapat menghasilkan gas sebesar 40 MMSCF per hari, atau setara dengan kebutuhan bahan bakar untuk PLTU berkapasitas 200 MW.

Mengejar pertumbuhan produksi PTBA sebesar 50 juta ton pada lima tahun mendatang, PTBA melalui konsorsium anak perusahaan PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR) sedang mempersiapkan pembangunan jalur baru angkutan kereta api dari Tanjung Enim menuju propinsi Lampung dengan kapasitas 25 juta ton per tahun. Saat ini proyek tersebut dalam tahap penyelesaian restrukturisasi kepemilikan saham pada anak perusahaan PT Bukit Asam Banko, perusahaan tambang sebagai produsen batubara yang akan memanfaatkan jalur transportasi kereta api ini.

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia yang selama ini mengangkut batubara PTBA dari lokasi tambang menuju Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati, dengan tambahan armada barunya saat ini siap meningkatkan kapasitas angkutnya menjadi 22,7 juta pon per tahun mulai tahun 2014.

Jakarta, 30 Oktober 2013.

QH