Genjot Efektivitas Kredit Usaha Rakyat

sacsacscsa

TOPCOACHINDONESIA.COM – Sebagai lembaga pelatihan bisnis, Top Coach Indonesia menyadari bahwa tak semua kalangan, khususnya pemilik usaha, memiliki akses terhadap industri perbankan. Akses terhadap kredit itu didominasi pihak yang justru mapan ekonominya, yaitu korporasi atau bidang usaha skala besar.

Sementara itu, kalangan yang kurang mampu atau bidang usaha mikro, misalnya, justru sering dipersulit ketika ingin mengajukan pinjaman ke bank. Dengan begitu, mereka akhirnya banyak terjebak pada jeratan lintah darat/rentenir.

Mengatasi persoalan itu, Top Coach Indonesia berharap, negara dinilai hadir demi memberi akses dan kemampuan pada pihak yang kurang mampu dan terbatas ekonominya pada akses pembiayaan. Maksudnya, pemerintah mesti menjamin agar usaha mikro, kecil, dan menengah dapat menerima kredit demi memulai usahanya. Dalam suasana itu, kredit usaha rakyat (KUR) terwujud.

Pengertiannya, KUR merupakan kredit program pemerintah, dananya dari perbankan ditujukan pada Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), Koperasi, dan Tenaga Kerja Indonesia dalam bentuk pemberian kredit modal kerja, atau kredit investasi, didukung fasilitas penjaminan. Tercatat, hingga Oktober 2014, volume KUR yang tersalur dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia menembus angka Rp15,82 triliun. Nilai pertumbuhannya berkisar 27,78 persen, dilihat year on year (yoy) dibanding Oktober 2013, yakni sekitar Rp12,38 triliun.

Rinciannya, penyaluran KUR itu telah disalurkan ke sekitar 198.987 bidang usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK). Rata-rata kredit yang diterima debitur senilai Rp79,5 juta. Namun, hal yang mengkhawatirkan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan) dari KUR cukup tinggi. Tercatat, nilai kredit macet debitur mencapai 4,2 persen. Sementara, batasan yang dikenakan pemerintah sebesar 5 persen.

“Dalam catatan Kemenkop UKM, para debitur besar menyumbang kredit macet (non performing loan/NPL) paling banyak. Akibatnya, NPL bank penyalur KUR meningkat mencapai 4,2 persen. Padahal pemerintah membatasi NPL KUR maksimal 5 persen,” ungkap Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga kepada wartawan, termasuk Top Coach Indonesia.

Guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan KUR, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.190/PMK.05/2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Imbal Jasa Penjaminan Kredit Usaha Rakyat. Dalam ketentuan itu, perusahaan penjamin KUR merupakan pihak yang melakukan pinjaman kredit dan mengikatkan diri pada nota kesepahaman bersama.

Dengan demikian, Top Coach Indonesia berkeyakinan, efektivitas dan efisiensi KUR memang dapat ditempuh via fasilitas penjamin yang disediakan pemerintah. Namun ke depan nanti, pemerintah perlu mengusahakan, KUR ini fokus pada sektor tertentu, misalnya usaha kreatif, atau pada bidang ketahanan pangan dan maritim. Hal itu dilakukan agar program KUR itu bekerja tepat sasaran dan mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

QH.

Related Articles :
– Dorong Percepatan Pertumbuhan Industri Nasional
Daya Saing IKM Mutlak Harus Ditingkatkan
Kemudahan Perijinan Dongkrak Investasi
Pelatihan SDM Mutlak untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa
Indonesia Perlu Tingkatkan Kualitas SDM Hadapi MEA 2015
Produk Indonesia Harus Berstandard Global
Pemerintah Harus Tingkatkan Daya Saing Koperasi dan UKM
Top Coach Indonesia: Langkah Konkret Pemerintah dalam Memberdayakan UMKM Ditunggu
Indonesia Bersiap Kebanjiran Akuntan Asing
Top Coach Indonesia: Saatnya Mengembangkan Bisnis Digital

BCA Kurangi Kredit KPR dan KKB

sacsacscsa

Jakarta, 6 Maret 2014 – PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) akan mengurangi  penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) untuk tahun 2014. Hal tersebut sejalan dengan arahan regulator untuk menekan kredit di tengah perlambatan ekonomi.
Hal ini disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. Ia mengatakan, khusus pinjaman konsumen, baik KPR dan KKB, BCA akan menahan diri. “Kalau terjadi sesuatu di perekonomian, sektor ini yang terkena dampak,” ujar Jahja.
BCA juga akan menekan penyaluran kredit konsumen kendati tak ada gejala adanya lonjakan rasio kredit bermasalah (NPL) di sektor tersebut. Namun, Jahja tidak menampik di beberapa kota memang terjadi kenaikan NPL. “Tetapi alasannya karena itikad nasabah yang tidak baik,” ujarnya.
Untuk keseluruhan kredit, BCA menargetkan pertumbuhan kredit hanya sebesar 13-15 persen tahun ini. Jahja mengatakan, kredit yang terus dipacu dapat membuat ekonomi menjadi overheating dan memacu tak terkendalinya suku bunga. Oleh karena itu, bank diharapkan menyesuaikan diri dengan kondisi pasar.
Ke depannya, Jahja mengatakan, BCA akan melihat situasi makro ekonomi. “Kalau semuanya lancar, tak ada peningkatan NPL, likuiditas cukup, DPK berkembang. Itu bisa menjadi acuan untuk berkembang lebih pesat,” ujarnya

QH.

BRI Asuransikan Sejuta Pengusaha Mikro

sacsacscsa

Jakarta, 14 November 2013 – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengasuransikan sekitar sejuta pengusaha atau debitur mikro dalam rangka menjaga kualitas debitur. “Asuransi ini merupakan asuransi yang ditawarkan kepada debitur mikro kami yaitu debitur Kupedes,” kata Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali. dalam siaran pers yang diterima berbagai media, Rabu (13/11/2013).

Ali menuturkan, saat ini telah terdapat sebanyak 792.510 debitur mikro yang bergabung dalam asuransi AKK (Asuransi Kecelakaan, Kesehatan, dan Meninggal Dunia). Anak usaha BRI yakni PT Asuransi Beringin Life, PT Asuransi BSAM dan PT Chartis Insurance Indonesia bertindak sebagai konsursium yang menyediakan jasa layanan asuransi tersebut.

Ali menjelaskan, besarnya tarif premi asuransi tersebut sangat terjangkau bagi pelaku usaha mikro yang juga debitur Kupedes yakni sebesar Rp50.000. “Bila debiturnya suami-istri tarifnya naik sedikit jadi Rp90.000, dengan jangka waktu selama satu tahun,” ujar Ali.

Ali menambahkan, skema asuransi ini sangat efektif menjaga kualitas kredit mikro di BRI. Pasalnya, dengan adanya asuransi ini arus kas usaha mikro debitur tidak terganggu lagi sebab biaya kesehatan pelaku usaha dan istrinya sudah ditanggung perusahaan asuransi.

“Pelaku usaha mikro ini sangat sensitif dengan isu cashflow usahanya. Kalau sakit, dana usaha bisa kena. Jadi, dengan adanya asuransi ini, ada apa-apa seperti sakit kan jadi aman,” kata Ali.

Ali membeberkan empat jenis manfaat asuransi ini bagi pelaku usaha mikro. Pertama, dapat santunan harian sebesar Rp100.000, penggantian biaya pembedahan sebesar Rp2.500.000, santunan kematian sebab kecelakaan sebesar Rp500.000, dan santunan kematian normal Rp2.500.000.

Bisnis mikro BRI sendiri terus membuahkan momentum pertumbuhan yang berkelanjutan. Kredit mikro BRI tumbuh sebesar 26,86 persen (yoy), meningkat dari Triwulan III tahun lalu, Rp101,1 triliun menjadi sebesar Rp128,22 triliun. Pertumbuhan kredit mikro BRI tersebut tidak hanya menghasilkan peningkatan outstanding pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah debitur.

Hingga akhir September 2013, jumlah debitur mikro BRI mencapai 6,1 juta orang. Dalam pengembangan bisnis mikronya, BRI juga berhasil menjangkau lebih banyak pengusaha kecil dalam usaha peningkatan financial inclusion di Indonesia. Pertumbuhan penyaluran kredit mikro yang tinggi diikuti dengan kualitas kreditnya (NPL) yang terjaga pada 0.48 persen.

QH.