Produk UKM Masih Kalah Bersaing

sacsacscsa

Jakarta, 13 Januari 2014 – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai produk-produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia masih kalah bersaing dengan produk UKM negara lain. Kemasan yang tidak menarik menjadi salah satu alasan mendasar.
Ketua Umum BPD HIPMI Jaya Iskandarsyah Ramadhan Datau mengatakan, pihaknya perlu mendorong tumbuhnya para pengusaha UKM di Indonesia. Salah satunya melalui pelatihan dan pendidikan termasuk soal kemasan produk.
“Banyak produk makanan kita yang nggak bersaing. Kita punya kopi luwak tapi kemasan biasa saja tapi kopi luwak dari luar lebih bagus packaging-nya. Kue semprong di Jepang packaging-nya bagus jadi nilai jual tinggi tapi di kita nggak, itu contoh kecil dari makanan,” terang Rama.
Selain itu, ia menjelaskan, saat ini dari sedikitnya 55 juta jumlah UKM yang ada di Indonesia, masih banyak yang belum berbadan hukum sehingga kesulitan dalam memperoleh modal.
“Salah satu kendala UKM kan pendanaan. Banyak UKM yang secara legalitas belum berbadan hukum, misalnya tukang lontong sayur, itu usahanya sudah besar secara legal belum terbentuk. Kalau di luar negeri, pedagang es krim jalanan saja punya badan hukum jadi bisa masuk perbankan,” kata Rama.
Ia menambahkan pelaku UKM perlu didorong untuk bisa berbadan hukum agar bisa berkembang. Melalui Bank HIPMI, pihaknya bersedia memberikan kredit kepada para pelaku UKM yang sudah tergabung menjadi anggota HIPMI. Dengan itu, akses pinjaman melalui perbankan bisa mudah dicapai.
“Syarat ke bank mesti punya legality, itu kita coba kasih pendidikan dan seminar ke pelaku UKM. Bank HIPMI bisa memberikan kredit fokusnya ke para pengusaha kecil menengah dengan syarat punya usaha, berbadan hukum, pembukuan harus benar,” cetusnya.

QH.

Tantangan Berat Menanti UMKM Sepanjang 2014

sacsacscsa

Jakarta, 7 Januari 2014 – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) akan menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2014. Hal ini disampaikan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau HIPMI DKI Jakarta Andhika Anindyaguna Hermanto. “Iklim usaha kurang menguntungkan mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga elpiji, inflasi, dan bunga kredit tinggi akan menjadi kendala yang membayang-bayangi kalangan usaha,” kata Andhika.

Inilah yang menurutnya menjadi tugas yang tak mudah bagi pengurus HIPMI ke depan. Apalagi, lanjutnya, sebagian besar anggotanya merupakan pengusaha baru (start-up) yang membutuhkan banyak dukungan di tengah-tengah iklim ekonomi yang kurang menguntungkan.
Menurut Andhika, siapapun yang menjadi ketua terpilih nantinya harus mampu membuka akses dana murah bagi anggota yang telah dirintis pengurus sebelumnya. Andhika menjelaskan, selama tiga tahun kepemimpinannya HIPMI fokus kepada akses pendanaan di antaranya menggandeng Bank DKI, Askrindo, serta meluncurkan kembali BPR HIPMI Jaya setelah sebelumnya dilakukan restrukturisasi manajemen.
Andhika melanjutkan, iklim bisnis menjadi barometer investasi baik saat di awal maupun akhir tahun sehingga dengan inflasi 8-9 persen akibat kenaikan BBM (tertinggi dalam 3-4 tahun lalu) ditambah kenaikan harga gas tentunya akan semakin memberatkan. Andhika berharap dalam penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 tidak akan membuat ekonomi mengalami penurunan.
Dia juga melihat banyak terobosan yang telah dilakukan Gubernur DKI saat ini di antaranya upaya memecahkan kemacetan lalu lintas dengan membangun sejumlah infrastruktur, serta kebijakan perizinan yang semakin mudah. Selain itu, lanjutnya, pengurus HIPMI dituntut meningkatkan “capacity building” atau daya saing bisnis dalam upaya menghadapi era perdagangan bebas.

Anggota HIPMI sendiri saat ini sebanyak 3.000 orang, dari jumlah itu sebagian besar (mayoritas) didominasi pengusaha kecil dan menengah yang memiliki kelemahan dari sisi permodalan, penjaminan aset dan sebagainya. Padahal jumlah UKM di Indonesia mencapai 60 juta. sebagian besar menghadapi persoalan yang sama dengan pengusaha anggota HIPMI.

Andhika mengatakan, HIPMI memilki komitmen yang kuat untuk menekan angka pengangguran dengan melatih mereka menjadi pengusaha berhasil dan tangguh. “Syarat untuk menjadi anggota HIPMI juga mudah sepanjang memiliki badan usaha sudah dapat bergabung, anggota kita memiliki omzet rata-rata mulai dari ratusan juta sampai miliaran seiap tahun,” ungkap dia.

QH