UMKM Terkendala dengan Lemahnya Akses Permodalan

sacsacscsa

Jakarta, 12 Desember 2013 – Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diyakini masih memiliki berbagai kendala. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Juhozua Yoltuwu. Menurutnya, UMKM masih memiliki banyak tantangan terutama lemahnya akses untuk permodalan.
“Dinamika usaha mikro kecil menegah dan koperasi secara umum telah berkembang dengan baik, namun masih ada kendala terutama lemahnya akses untuk permodalan,” kata Juhozua dalam sambutannya pada acara “Citi Micro-Entrepreneurship Award” (CMA) 2013 di Jakarta, Rabu lalu. Ia menambahkan, selain terkendala masalah akses permodalan tersebut, beberapa permasalahan lainnya adalah terkait dengan rendahnya kapasitas produksi dan kompetensi wirausaha, rendahnya kualitas produk, dan juga terbatasnya kemampuan pengembangan pasar dan pemasaran.
Menurut Juhozua, untuk daerah tertinggal juga masih memiliki permasalahan berupa minimnya infrastruktur yang kurang memadai, yang jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia sudah jauh tertinggal. “Kota-kota besar memiliki infrastruktur pendukung yang memadai, namun di daerah tertinggal masih belum ada, yang dinilai bisa menimbulkan ketidakpastian berusaha,” kata Juhozua.
Guna mengatasi hal itu, lanjutnya, pihaknya terus melakukan upaya koordinasi dan sinkronisasi UMKM dengan berbagai pihak agar mampu meningkatkan perekonomian lokal yang akan mampu mendorong aktivitas ekonomi di daerah tertinggal. “Kami terus berupaya untuk mendorong pembangunan daerah tertinggal salah satunya dengan mendorong kebijakan afirmatif, karena kemampuan ekonomi di daerah tertinggal berbeda dengan pusat,” kata Juhozua.
Kaitannya dengan pemberian penghargaan pada Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2013 merupakan bentuk apresiasi daya juang wirausaha mikro di Indonesia yang mampu menyumbang 57,4 persen PDB nasional Indonesia. Dalam pendaftaran yang dibuka sejak Juni 2013, sebanyak 451 wirausaha mikro yang beromzet di bawah Rp100 juta per tahun atau dengan laba bersih maksimal Rp3 juta per bulan telah berpartisipasi pada CMA 2013.
Dari sebanyak 451 peserta yang mengikuti seleksi berupa seleksi administratif, survei tempat usaha dan wawancara tersebut, sebanyak 16 peserta dipilih sebagai finalis dari seluruh Indonesia yang terbagi dalam wirausaha mikro perempuan, wirausaha mikro sosial, wirausaha mikro berwawasan lingkungan, dan wirausaha mikro pelestarian budaya. Selain itu akan diberikan penghargaan kepada sembilan individu.
Citi Foundation 2013 mengalokasikan dana kurang lebih sebesar 150.000 dolar AS dan jika diakumulasikan sejak 2005, melalui Citi Peka telah mengalokasikan dana sekitar Rp5 miliar untuk program tersebut.

QH.