Dampak MEA Bagi UMKM di Indonesia

sacsacscsa

Sejak bulan Januari 2016 lalu ASEAN resmi membuka pasar bebas yang dikenal dengan sebutan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) atau ASEAN Economic Community. Pembukaan pasar bebas ini berarti bahwa setiap barang dan jasa nantinya akan bebas keluar masuk antar negara di ASEAN. Terutama pembangunan integrasi ekonomi agar bisa mengurangi biaya transaksi perdagangan dan peningkatan fasilitas binis serta daya saing ekonomi UMKM.

Tentu perubahan kebijakan antar negara-negara ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja sangat membantu peningkatan kualitas ekonomi masing-masing negara. Meski demikian beberapa pasar seperti China yang mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas tentu menjadi salah satu pesaing yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Berdasarkan kebijakan ASEAN, Pasar bebas kali ini terfokus pada 12 sektor yang menjadi prioritas yaitu berupa 7 sektor barang meliputi industri pertanian, peralatan elektonik, otomotif, perikanan, industri berbasis karet, industri berbasis kayu, dan tekstil. Serta sektor jasa meliputi pariwisata, teknologi informasi, logistik, pelayanan kesehatan dan lain sebagainya.

Tujuan utamanya tentu untuk menciptakan pasar tunggal berbasis produksi berdaya saing tinggi, makmur dan lebih stabil dengan integritas regulasi perdagangan. Hal ini juga mengindikasikan kebebasan pelaku usaha untuk melakukan investasi, penambahan fasilitas serta bersaing lebih luas lagi.

Bagi UMKM di Indonesia, keberadaan MEA tentu menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa yang diberikan. Karena secara langsung akan dihadapkan dengan pasar yang lebih luas dari sebelumnya. Tentunya dengan pemangkasan anggaran distribusi yang sangat membantu delivery barang lebih cepat dan murah.

Dampak Positif MEA Bagi UMKM di Indonesia

Jika ditanggapi dengan benar dan langkah yang tepat, tentu bisa menjadi loncatan baik untuk perekonomian di Indonesia. Berikut ini berbagai dampak positif MEA bagi UMKM di Indonesia :

  1. Tenaga ahli terampil bisa terserap lebih baik di pasar luar negeri
  2. Ketersediaan barang dan jasa lebih murah karena ada pemangkasan biaya import barang jadi atau barang baku sebelum diolah di dalam negeri.
  3. Proses produksi lebih murah karena bahan baku dan mesin produksi lebih mudah didapatkan.
  4. Peluang wirausaha baru sangat tinggi karena pasar bebas memberikan jangkauan produk lebih luas, relasi bisnis lebih luas dan pengembangannya yang semakin mudah dilakukan.

Dampak Negatif MEA Bagi UMKM di Indonesia

Namun jika UMKM Indonesia tidak melakukan persiapan sejak dini dan tidak tepat dalam melakukan penanganan bisa jadi justru memperburuk ekonomi Indonesia Itu sendiri. Meski kecil kemungkinannya berikut ini dampak negatif MEA yang mungkin terjadi pada UMKM Indonesia.

  1. Tentu ada bangsa yang diuntungkan karena pasar bebas ini. Sebagai contoh, kebutuhan tenaga trampil industri perminyakan di Indonesia sangat besar, namun SDM negeri ini yang menguasai minyak cukup terbatas. Alhasil bangsa asing akan masuk ke Indonesia untuk memenuhi kekosongan lapangan pekerjaan itu. Hukum rimba akan bersaing, siapa yang berkompeten, dialah yang akan diambil.
  2. Industri kecil yang memiliki daya saing lemah akan semakin tergeser karena semakin banyak produk dengan jenis sama yang lebih murah. Contoh kasus produk mainan dari China yang dijual sangat murah di Indonesia.
  3. Sektor perdagangan akan langsung head to head baik yang besar dan yang kecil secara langsung. Alhasil mereka yang memiliki modal terbatas, sumberdaya terbatas tidak bisa langsung bersaing jika tidak dibarengi kreatifitas yang lebih baik.

Jauh dari pada itu, ada peluang yang sebenarnya sangat besar dan bisa dimanfaatkan oleh UMKM di Indonesia. Pertama, sektor perdagangan E-Commerse atau bisnis online sangat terbuka luas. Kedua, sektor jasa sangat mungkin berkembang dengan adanya kebutuhan industri semakin tinggi. Misalnya jasa pengiriman barang, jasa antar jemput dan lain sebagainya. Ketiga, hal yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa Indonesia adalah negera kepulauan yang memiliki jutaan tempat wisata menarik yang bisa dieksplorasi.

Jika UMKM bisa terus menempa dirinya menjadi lebih baik dalam hal kapasitas dan strategi bisnis, tentu keberhasilan bisa diraih lebih mudah. Ingatlah bahwa UMKM adalah salah satu bibit terbaik yang akan menumbuhkan ekonomi Indonesia dengan cara lebih stabil.

Indonesia Bersiap Kebanjiran Akuntan Asing

sacsacscsa

TOPCOACHINDONESIA.COM – Top Coach Indonesia yang baru saja meraih sertifikasi IASSC berharap, akuntan Indonesia mampu meningkatkan kemampuan maupun kompetensinya dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Pasalnya, banyak akuntan di negara-negara Asia Tenggara yang sangat berminat bekerja di Tanah Air. Terbukti, dari hasil pertemuan dengan sejumlah akuntan di ASEAN seperti Singapura dan Malaysia, mereka sangat menginginkan bekerja di Indonesia.

Pertanyaannya adalah bagaimana kesiapan akuntan Indonesia mampu bersaing dengan akuntan dari negara tetangga. Pertanyaan ini juga diungkapkan Kepala Perwakilan Kantor CPA Australia-Indonesia Retty Setiawan, di sela-sela penandatanganan Naskah Kerjasama (MoC) CPA Australia dengan Inti College Indonesia, Swiss Germany University, serta President University.

Menurutnya, pemberlakuan MEA pada 2015 menuntut seluruh sektor perekonomian dan jasa, termasuk akuntansi, berusaha untuk memperbaiki diri serta meningkatkan kemampuan jika tak ingin kalah bersaing dengan profesi serupa yang datang dari sesama anggota ASEAN.

“Persaingan bebas tenaga kerja yang memiliki berbagai kemampuan dan keterampilan membuka kesempatan luas untuk bekerja sebagai warganegara sesama ASEAN,” katanya kepada Top Coach Indonesia dan sejumlah wartawan di Jakarta.

Indonesia akan menjadi tujuan pasar dengan potensi ekonomi sangat besar dan diprediksi bisa menjadi negara paling potensial di MEA dari segi perekonomian. Inilah antara lain yang menjadi alasan banyak akuntan asing ingin bekerja di Indonesia.

Top Coach Indonesia yang selama ini secara konsisten melakukan pelatihan dan pemberdayaan baik bagi profesional maupun pemilik usaha, menilai, jika dilihat dari segi kemampuan sebenarnya akuntan Indonesia tidak kalah bersaing dengan akuntan dari sesama ASEAN.

Namun, keahlian yang dimiliki harus terus ditingkatkan agar tidak kalah bersaing. Karena itu, dengan adanya pelatihan dan pengembangan kompetensi yang dilakukan Top Coach Indonesia bagi para profesional, diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas akuntan profesional di Indonesia sehingga memiliki standar yang diakui secara internasional.

QH.

Related Articles :
Top Coach Indonesia: Saatnya Mengembangkan Bisnis Digital
TOP COACH INDONESIA: SAATNYA PEMERINTAH BARU PERHATIKAN UMKM
Top Coach Indonesia: Pengusaha Muda Harus Siap Hadapi MEA 2015
Inilah 12 Sektor Unggulan dalam Menghadapi MEA
Mengapa Kebijakan Suku Bunga Belum Memihak UMKM?
Buka Mata dan Telinga soal Peluang Usaha bersama Top Coach Indonesia
– Apa Peran Pengusaha Bagi Kemajuan Daerah?
Bagaimana Agar Produk Anda Mendapatkan Standarisasi?
Apakah SDM IT Anda sudah siap menghadapi MEA 2015
Top Coach Indonesia Anggap Perbankan Indonesia Ketinggalan Terapkan e-money

Top Coach Indonesia: Pengusaha Muda Harus Siap Hadapi MEA 2015

sacsacscsa

TOPCOACHINDOESIA.COM – Lembaga pelatihan bisnis atau business coach kenamaan di Indonesia meyakini bahwa industri kreatif di Tanah Air makin berkembang dan pelakunya percaya diri memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Namun, Top Coach Indonesia menemukan adanya kekhawatiran terhadap para pengusaha muda dalam menghadapi MEA. Sejumlah pengusaha kecil menengah tampaknya masih khawatir menghadapi era pasar bebas ASEAN ini. Sejumlah UMKM khawtir harus gulung tikar akibat tak dapat bersaing ketika MEA mulai diberlakukan.

Hal ini juga diungkapkan Ketua Parekraf BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erik Hidayat. “Mereka mengaku masih khawatir tak dapat bersaing dengan profesional negara ASEAN lain dalam menjual produk ketika MEA sudah diberlakukan,” kata Erik, kepada Top Coach Indonesia dan sejumlah wartawan di Jakarta.

Kekhawatiran ini, menurut Erik, disebabkan oleh perasaan traumatik yang mereka hadapi ketika perjanjian ACFTA diberlakukan pada 1 Januari 2010. ASEAN-China Free Trade Area merupakan kerja sama perdagangan bebas antara masyarakat Asosiasi Asia Tenggara dengan Tiongkok.

Di dalam kesepakatan tersebut terdapat kebijakan, di mana tarif masuk barang dikurangi hinggga dihapuskan menjadi nol persen. Dengan begitu, produk Tiongkok membanjiri Indonesia dan berhasil menarik pangsa pasar lebih besar karena harganya murah.

Dengan adanya perjanjian ACFTA pada 2010, produk Tiongkok atau China dapat lebih mudah dijumpai di pasar dan toko-toko. Variasi barang dan harga yang lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri membuat barang Tiongkok lebih diminati, sehingga masyarakat mulai meninggalkan produk lokal.

Karena itu, Top Coach Indonesia beranggapan, sebaiknya pemerintah mempersiapkan regulasi yang baik terkait UMKM ini, sehingga mereka dapat dilindungi. Selain itu, sebagai bentuk kontribusi dalam memajukan dunia usaha, Top Coach Indonesia terus berkomitmen untuk memberikan edukasi bisnis pada mereka melalui pelatihan, seminar, workshop, dan business coaching yang secara rutin digelar.

QH.

Related Articles :
Inilah 12 Sektor Unggulan dalam Menghadapi MEA
Mengapa Kebijakan Suku Bunga Belum Memihak UMKM?
Buka Mata dan Telinga soal Peluang Usaha bersama Top Coach Indonesia
– Apa Peran Pengusaha Bagi Kemajuan Daerah?
Bagaimana Agar Produk Anda Mendapatkan Standarisasi?
Apakah SDM IT Anda sudah siap menghadapi MEA 2015
Top Coach Indonesia Anggap Perbankan Indonesia Ketinggalan Terapkan e-money
Sektor Industri Belum Siap Hadapi MEA
OJK Dorong Perbankan Nasional Mampu Hadapi MEA 2015
MEA Tuntut Kesiapan SDM di Bidang Logistik

Sektor Industri Belum Siap Hadapi MEA

sacsacscsa

Jakarta, 17 September 2014 –  Sektor industri dinilai belum siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan hanya 30 persen sektor industri yang siap bersaing menyongsong era pasar bebas ASEAN ini.

“Hanya 30 persen yang mampu bersaing di pasar bebas ASEAN, sisanya belum sanggup,” kata Sekretaris Direktorat Jendral Berbasis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Setio Hadi. Menurutnya, kinerja sektor industri melambat sebab sebagian besar bahan baku bergantung impor.

Ketergantungan impor inilah yang dianggap membuat kinerja ekonomi sulit dipacu. Karena itu, lanjutnya, pemerintahan mendatang diharapkan meningkatkan pembangunan industri dulu di dalam negeri. “Seperti bahan baku besi baja untuk industri logam masih bergantung dari impor, begitu juga dengan bahan baku Petrokimia dan permesinan untuk tekstil,” katanya.

Impor bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah. Pemerintahan mendatang menurutnya harus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar.

Ia mengatakan tren sumbangan industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terus menurun sejak 2004. Pada 2013 sektor industri menyumbang 23 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “Tahun ini diharapkan tumbuh 6 hingga 8 persen dengan meningkatkan kinerja industri,” tambahnya.

Untuk menjadi negara dengan industri maju, kesiapan sumberdaya manusia juga mutlak diperlukan. Sumberdaya manusia handal diyakini akan memperkuat daya saing sektor ini di kancah regional.

Guna menyiapkan sumberdaya manusia berkualitas dan berdaya saing, Top Coach Indonesia (TCI) selaku lembaga business coach atau pelatihan bisnis terkemuka di Indonesia, senantiasa menggelar berbagai kegiatan pelatihan, workshop, maupun seminar bisnis. Diharapkan, kegiatan ini juga mampu menyiapkan sumberdaya manusia handal di sektor industri.

QH.

Related Articles :
OJK Dorong Perbankan Nasional Mampu Hadapi MEA 2015
MEA Tuntut Kesiapan SDM di Bidang Logistik
Galakkan Kewirausahaan dengan Gerakan “Oneintwenty”
IKM Sebaiknya Bebas Pajak
TOP COACH INDONESIA Menggelar Business System MasterClass untuk 
  Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
BNI Ekspansi Bisnis Remitansi ke Tiga Negara
Makassar Jadi Kota Bisnis Terbaik 2014
Mebel Lokal Bakal Kuasai Asia Tenggara
Pameran Produk Bagi Wirausaha Baru Digelar
Pemerintah Pacu Lahirnya Wirausahawan Baru

OJK Dorong Perbankan Nasional Mampu Hadapi MEA 2015

sacsacscsa

Jakarta, 15 September 2014 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri perbankan nasional untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas di Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Commnity/AEC) 2015. “Kita jangan sampai ketinggalan kereta di AEC,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad.

Muliaman juga mengaku terus mendorong perbankan nasional untuk meningkatkan daya saing melalui penerapan asas kesetaraan atau resiprokal lewat perjanjian secara bilateral dengan otoritas-otoritas negara lain. Ia menilai perbankan nasional akan mampu bersaing di kawasan ASEAN karena dianggap memiliki kelebihan yang tak bisa ditawarkan bank-bank asing.

“Kita sudah bisa (bersaing). Bank-bank kita memang bukan bank terbesar di Asia, tapi kita punya core (bisnis) yang bisa kita jual dan ke depankan,” katanya. Ia menegaskan perbankan nasional memiliki kelebihan kuat dan mengakar di segmen ritel juga pembiayaan ke masyarakat kecil.

Kendati demikian, Muliaman mengingatkan bahwa sektor finansial tak bisa bergerak sendiri dan harus berjalan seiringan dengan sektor lainnya, seperti sektor riil. “Integrasi di ASEAN memberikan manfaat. Peluang bisnis itu harus berjalan bersama. Tidak mungkin juga sektor finansial berjalan sendiri,” katanya.

Upaya untuk meningkatkan daya saing perbankan nasional juga dilakukan Top Coach Indonesia (TCI). Lembaga pelatihan bisnis terkemuka di Indonesia ini beberapa kali bekerja sama dengan Bank Indonesia dengan menggelar workshop untuk kalangan profesional perbankan. TCI juga menggelar workshop kewirausahaan bagi UKM binaan Bank Indonesia.

QH.

Related Articles :
MEA Tuntut Kesiapan SDM di Bidang Logistik
Galakkan Kewirausahaan dengan Gerakan “Oneintwenty”
IKM Sebaiknya Bebas Pajak
TOP COACH INDONESIA Menggelar Business System MasterClass untuk 
  Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
BNI Ekspansi Bisnis Remitansi ke Tiga Negara
Makassar Jadi Kota Bisnis Terbaik 2014
Mebel Lokal Bakal Kuasai Asia Tenggara
Pameran Produk Bagi Wirausaha Baru Digelar
Pemerintah Pacu Lahirnya Wirausahawan Baru
LPDB Fasilitasi Kaum Muda Berwirausaha

Semen Indonesia Siap Ekspansi ke Afrika

sacsacscsa

Jakarta,10 Juni 2014 – Badan Usaha Milik Negara, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, bukan saja menjadi perusahaan semen terbesar di Indonesia, tetapi telah merajai pasar ASEAN dan bersiap memperluas ekspansi ke kawasan Asia bahkan Afrika.

Presiden Direktur PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Dr Ir Dwi Soetjipto MM di Jakarta, Senin menyebutkan perusahaan BUMN yang dipimpinnya terus meningkatkan kapasitas produksi, melakukan efisiensi pembiayaan, memperluas distribusi, dan mempertahankan citra perusahaan.

Ia menjelaskan, memasuki pasar bebas ASEAN pada 2015, dari kapasitas produksi, perusahaannya menargetkan produksi semen sebanyak 31,8 juta ton pada 2014 dan menjadi 37,8 juta ton pada 2016 dengan penambahan produksi dari pabrik di Sumbar dan Jateng.

Selain itu akan ada peningkatan produksi sebesar dua juta ton dari berbagai pabrik yang ada. Ditambah 1,2 juta ton dari pabrik yang akan dibangun di Myanmar. “Jadi bisa berproduksi 41 juta ton pada 2017,” kata pemimpin perusahaan yang memiliki hobi silat dan memetik gitar itu.

Ia mengatakan bahwa Semen Indonesia telah mengalahkan kompetitornya, The Siam Cement Group asal Thailand, sejak awal 2013 dalam kapasitas produksinya. Perusahaan pesaing itu memiliki produksi sebanyak 27 juta ton.

Mengenai ekspansi ke pasar internasional atau global, Dwi Soetjipto menjelaskan perusahaannya melakukan berbagai langkah peningkatan terus menerus dalam produksi, pemasaran, sumber daya manusia, dan sisi finansial.

QH.

Related Articles :
–  “Indofood Terus Kembangkan Pasar Luar Negeri”
“Kiprah Produksi Tuna Indonesia di Kancah Global”

 

UKM Hadapi Pasar Bebas dengan Branding

sacsacscsa

Jakarta, 30 Januari 2014 – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS),  jumlah unit usaha Kecil menengah (UKM) saat ini ada lebih dari 56,5 juta unit usaha yang mampu menyokong kontribusi terhadap GDP sebesar 56% dan 97% kontribusi terhadap tenaga kerja.
Berkaitan dengan akan berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN di 2015 maka akan terjadi ancaman yang bisa melemahkan usaha UKM dan menyebabkan kita menjadi penonton di negeri sendiri,
Setidaknya ada empat hal yang akan  terjadi dengan berlakunya pasar bebas ASEAN, yakni Bebas Aliran Jasa,  Bebas Investasi, Bebas Aliran Modal dan Bebas Aliran Tenaga Kerja Terampil. Hal ini  dipaparkan  oleh Bonar Hutauruk, Asisten Deputi bidang ekspor dan Impor Kementerian Koperasi dan UKM.
Bonar mengatakan, kita harus bangkit menghadapi risiko daya saing, kuncinya adalah bersinergi untuk penguatan branding, inovasi dan aspek legal, terutama peran UKM yang berorientasi ekspor. “Pelaku usaha UKM harus berorientasi pada produk yang dapat berkembang, tidak pada produk atau jasa yang sulit dikemmbangkan,” sarannya.
Namun, lanjut bonar, untuk go international UKM perlu memiliki kemampuan manajemen dan kemampuan investasi.
Data UKM berpotensi ekspor ada sebanyak 678 ribuan unit usaha  atau 1,2% dari total UKM yang tercatat 56,5 juta  unit usaha yang berkecimpungan dalam usaha Furniture, kerajinan dan assesoris, usaha makan dan minuman serta usaha herbal dan kosmetik juga komoditi agrobisnis.

QH.

Pemerintah-Pengusaha Siap-siap Hadapi AEC

sacsacscsa

Jakarta, 6 Desember 2013 – ASEAN Economic Community (AEC) atau masyarakat ekonomi ASEAN tidak bisa mundur lagi. Karena itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengajak pengusaha membuat program bersama menghadapi persaingan yang semakin ketat di kawasan Asia Tenggara pada 2015. “Sekarang saya lebih proaktif mengajak pengusaha untuk bekerja sama meningkatkan daya saing hadapi AEC,” katanya pada forum komunikasi dengan dunia usaha dan instansi terkait, di Kuta, Bali, kemarin.

Pada forum bertajuk “Kesiapan Sektor Industri Menghadapi ASEAN Economic Community 2015” itu, Hidayat mengatakan pihaknya tidak ingin terulang lagi kejadian ketidaksiapan pengusaha Indonesia menghadapi pasar bebas ASEAN – China (CAFTA) 2009. Ia menceritakan ketika ia baru menjadi Menteri Perindustrian pada 2009 langsung dihadapi masalah ada 220 jenis produk industri yang tidak siap bersaing di CAFTA.

“Menghadapi AEC ini, saya mengajak dunia usaha mempersiapkan program bersama guna meningkatkan daya saing, lebih efisien, membuat produk yang unggul, dan memberantas penyelundupan,” ujar Hidayat. Dengan sisa waktu sekitar dua tahun ini, diakuinya banyak pekerjaan yang harus dilakukan pemerintah dan dunia usaha agar siap hadapi AEC.

Hidayat melanjutkan, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi sektor industri jelang AEC antara lain kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang tidak sebanding dengan kenaikan produktivitas, kurangnya pasokan gas untuk industri, belum terjaminnya pasokan bahan baku dari dalam negeri, serta rendahnya kualitas SDM di bidang industri.

Di tengah tantangan yang tidak mudah dilalui itu, Hidayat mengarahkan berbagai kebijakan di perindustrian menuju Indonesia sebagai basis produksi dan mendapatkan keuntungan yang maksimal dari AEC 2015. “Dalam integrasi ASEAN production chain itu, Indonesia diharapkan mendapatkan peran bukan sebagai pemasok bahan mentah dan pasar hasil produk ASEAN tapi juga menjadi basis produksi,” katanya.

Program Kemenperin untuk mencapai target tersebut antara lain penerapan bea keluar bahan mentah seperti CPO, karet, dan kakao, kemudian pengurangan/penghapusan PPnBM dalam pengembangan low cost & green car (LCGC), pengembangan industri komponen dan aksesoris kendaraan, dan peningkatan kompetensi SDM di bidang industri.

QH

Insinyur Impor Serbu Indonesia 2015

sacsacscsa

Jakarta, 15 November 2013 – Persatuan Insinyur Indonesia secara terbuka menyatakan Indonesia terancam diserbu insinyur impor atau asing mulai 2015, bertepatan mulai diberlakukannya liberalisasi pasar ASEAN, karena jumlahnya sampai saat ini masih sangat kurang dibandingkan negara lain di kawasan Asia.

“Ini ancaman nyata. Indonesia bakal diserbu insinyur impor atau asing, bila tidak segera melakukan terobosan radikal. Faktanya kita hanya punya 164 orang insinyur per satu juta penduduk. Idealnya harusnya 400 orang insinyur per satu juta penduduk,” kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar.

Ditemui di sela Konferensi Federasi Organisasi Insinyur Se-ASEAN ke-31 (Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations 2013/CAFEO) 11-14 November, Ia mengatakan, jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, posisinya sudah 397 insinyur per satu juta penduduk dan Korea 800 insinyur per satu juta penduduk.

“Mirisnya lagi adalah minat para siswa lulusan sekolah lanjutan atau SMU untuk meneruskan ke pendidikan tinggi sampai menjadi insinyur, kelihatan sekali menurun. Kita hanya punya 11 persen atau 1,05 juta dari total sarjana yang ada,” katanya.

Menurut dia, idealnya adalah 20 persen dari seluruh sarjana adalah para insinyur, sedangkan di Malaysia saja, rasio antara insinyur dan seluruh sarjana lulusan perguruan tinggi mencapai 50 persen. “Malaysia sekarang punya 13 juta sarjana teknik dari total 27 juta penduduknya,” kata Boby.

Ia menjelaskan berdasarkan sebuah kajian, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi hingga 2015 membutuhkan sedikitnya tambahan 129.500 insinyur per tahun. Sedangkan pada 2015 sampai 2030, Indonesia memerlukan sedikitnya 175 ribu insinyur untuk mendorong industri dan kawasan ekonomi khusus.

Mengutip pernyataan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, katanya, “Jangan sampai insinyur asing yang masuk dan mengolah sumberdaya alam kita. Tidak boleh terjadi,” katanya. Ia juga menyebut, Indonesia harus sedikitnya menambah sedikitnya 175 ribu sarjana teknik per tahun pada 2025, jika ingin mencapai pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita 20.600-25.900 dolar AS.

“Indonesia harus lakukan sejumlah terobosan mulai dari pemberian beasiswa besar-besaran untuk menjadi insinyur hingga pembenahan di sektor regulasinya. Bukankah anggaran pendidikan sudah 20 persen dari APBN?,” katanya.

Kemudian, tambahnya, Indonesia juga perlu segera memiliki Undang-Undang (UU) tentang insinyur sebab jika tidak maka para insinyur Indonesia tidak memiliki standar internasional dan kualifikasi yang jelas sehingga tidak bisa bersaing secara global.

“Sekedar catatan, di antara 10 negara anggota ASEAN hanya tiga negara yang belum memiliki UU insinyur yakni Indonesia, Laos dan Myanmar. Tapi, Myanmar dilaporkan akhir bulan ini, sudah akan memiliki UUnya. Jadi, tinggal Indonesia dan Laos yang belum jelas,” katanya.

Jika pada pasar bebas ASEAN, tegasnya, Indonesia belum juga memiliki UU insinyur, maka pasar Indonesia akan bisa dengan bebas dimasuki oleh insinyur asing dengan kualifikasi internasional, sedangkan insinyur Indonesia, tidak bisa merambah ke negara lain.

QH.