Pasar Cloud Diramalkan Meningkat pada 2015

sacsacscsa

Jakarta, 23 Juni 2014 – Nilai pasar teknologi cloud computing atau komputasi awan pada 2015 mendatang diprediksi meningkat sekitar 3,5 kali lipat dibandingkan pada tahun 2010. “Menurut data dari Gartner, pada tahun 2010, bisnis cloud mencapai 37,8 miliar dolar Amerika Serikat. Pada 2015, nilai ini diprediksi meningkat menjadi 121,1 milyar dolar Amerika Serikat. Marketnya sangat cepat, pertumbuhannya cepat sekali,” kata CEO PT.Virtus Technology Indonesia, Erwin Kuncoro.

Erwin mengatakan, di Indonesia, nilai pasar cloudjuga diprediksi meningkat. Hanya saja, cloud di Indonesia menurut dia masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya, dari sisi keamanan dan jaringan.

“Kalau dari security, ada kekhawatiran bila data hilang atau diduplikasi. Kemudian, bagaimana mengintegrisasikan data melalui cloud yang bisa digunakan semua karyawan,” katanya lalu mengatakan “di Indonesia network-nya belum sebagus di Korea ataupun Singapura.”

Tantangan lainnya menurut Erwin ialah menentukan model bisnis cloud, pemasaran dan pemilihan vendor yang dapat dipercaya. Di samping dari sisi bisnis, penerapan teknologi cloud juga mendapat tantangan dari sisi pelaku bisnis.

Country Manager EMC Indonesia, Adi Rusli, mengatakan, pelaku bisnis umumnya enggan mengadopsi teknologi ini. “Cloud kalau melihat adopsinya secara global relatif tidak besar. Salah satunya karena keengganan (pelaku bisnis) untuk berubah,” katanya.

QH.

Related Articles :
BI Rilis Uang NKRI 17 Agustus
– Dua Kementerian Kerja Sama Pemberdayaan Koperasi dan Pengembangan Energi
– Kemenperin Gelar Sepatu, Kulit, dan Fesyen 2014

Saham Jadi Favorit Investasi di Tahun 2014

sacsacscsa

Jakarta, 7 Maret 2014 – Investor Indonesia akan menginvestasikan dananya lebih banyak ke dalam saham pada tahun 2014. Hal ini disampaikan Direktur Utama Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi. “Menurut survei yang dilakukan Schroders Global Investment Trends Report 2014, sebesar 46 persen investor akan meningkatkan investasi yang berasal dari sisa pendapatan yang telah dikurangi pengeluaran rutin,” ujar Michael Tjoajadi.

Ia menambahkan, laporan itu menunjukkan tanda-tanda kepercayaan investor yang meninggi ke pasar saham. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan performa pasar yang baik di negara-negara berkembang.
Pada tahun 2013, lanjutnya, ekonomi di Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan sekitar tiga persen pada kuartal empat meski sempat adanya kekhawatiran “shut-down” pemerintahan AS di bulan Oktober 2013. Di Eropa, lanjut dia, Jerman dan Inggris juga telah menunjukkan kinerja yang baik. Sama halnya dengan Jepang yang memberikan hasil positif yang sesuai dengan kebijakan Abenomics dan memberikan harapan baru bagi investor di seluruh dunia.
Kendati demikian, Michael Tjoajadi mengatakan trend terkait investasi saham tetap memiliki beberapa tantangan di tahun 2014. Meski berita positif berdatangan dari berbagai negara, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara global masih rendah. “Negara-negara Eropa masih lemah, dan di negara berkembang masih dibayangi penarikan stimulus keuangan Bank Sentral AS atau the Fed yang memberatkan pasar modal,” ujar dia.
Ia mengatakan bahwa investor perlu fokus dalam mencari saran-saran dari penasihat finansial profesional, untuk menginvestasikan dananya di sarana investasi yang tepat dan mendapat keuntungan dari pertumbuhan maupun peluang lainnya.
Apalagi, lanjut dia, masyarakat Indonesia akan menyambut pemilihan legislatif dan presiden tahun ini. Agenda itu merupakan salah satu katalis bagi ekonomi ke depannya. “Keyakinan investor tahun ini cenderung meningkat dan berpotensi untuk semakin kuat, namun itu tergantung dengan kandidat presiden siapa yang terpilih,” ujar Michael Tjoajadi

QH.

Jamsostek Raih Laba Rp2,07 Triliun per Agustus

sacsacscsa

Jakarta, 8 Oktober 2013 – PT Jamsostek per Agustus 2013 kemarin membukukan laba 98 persen dari target atau sebesar Rp2,07 triliun dari target Rp2,1 triliun. Kendati kondisi ekonomi bergejolak, tetapi capaian sangat menggembirakan. “Kami optimistis target laba akan tercapai tahun ini walaupun perekonomian saat ini masih bergejolak,” kata Direktur Umum dan SDM PT Jamsostek Amri Yusuf.

Amri mengatakan, meski sudah mendekati target 2013, tetapi manajemen belum akan menaikkan target laba dalam rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini. Sementara total dana investasi hingga Agustus 2013 sudah mencapai Rp147 triliun dengan hasil investasi sebesar Rp10,8 triliun. Sementara dari sisi aset sudah sekitar Rp149 triliun.

Amri juga menjelaskan, melemahkan perekonomian dunia akibat kondisi perekonomian Amerika Serikat membuat cemas banyak pihak. Namun, fundamental ekonomi dalam negeri cukup kuat dan komitmen pemerintah dan DPR diharapkan pelaksanaan jaminan sosial nasional bisa terlaksana.

Di sisi lain, PT Jamsostek akan terus berkomitmen memberikan manfaat tambahan bagi pesertanya. Hingga September 2013 sedikitnya Rp40 miliar digelontorkan untuk manfaat tambahan bagi peserta. Manfaat tambahan itu antara lain bea siswa, pemeriksaan kesehatan, pengobatan gratis dan pemberian alat pelindung.

Program pemeriksaan kesehatan gratis akan dilaksanakan di 11 provinsi di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Perusahaan yang dipilih untuk mendapatkan manfaat tambahan tersebut merupakan peserta yang patuh membayar iuran dan melaporkan upahnya sesuai yang diterima karyawan.

Wakil Sekretaris Perusahaan PT Jamsostek Kuswahyudi Kusnidar mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian untuk meningkatkan kesehatan pekerja. “Jika pekerja sehat maka produktivitasnya akan meningkat dan perusahaan akan untung,” ujarnya. Program periksa kesehatan gratis berlangsung mulai 2-15 Oktober yang diikuti sekitar 55.000 pekerja.

QH.